BREAKING

Kamis, 01 Mei 2014

Jesse Livermore - Great Bear of Wall Street


“Play the market only when all factors are in your favor. No person can play the market all the time and win. There are times when you should be completely out of the market, for emotional as well as economic reasons”.

Kalau para trader spekulan akan mengangkat seorang raja sepanjang jaman, mungkin Jesse Livermore (1877-1940) pantas untuk posisi itu. Karena selain menjadi legenda pasar saham dia juga dikenal sebagai raja spekulator pada jamannya. Speculator King dan ‘Great Bear of Wall Street’ selalu melekat pada namanya karena mampu meraup keuntungan yang sangat besar saat pasar Wall Street bearish dalam crash yang terjadi tahun 1907 dan 1929.

Walaupun di kenal sebagai raja spekulator, Livermore bukanlah spekulan untung-untungan seperti penjudi. Dia penuh perhitungan dalam menentukan waktu dan money management. Pada masa itu analisa teknikal belum seluas dan secanggih sekarang yang bisa dibantu dengan banyak indikator, namun Livermore telah menerapkan analisa formasi pola pergerakan harga (price patterns), teknik memaksimalkan keuntungan dengan pyramiding dan analisa trend pergerakan harga dengan kaidah ‘cut losses, let profits run’.

Hal lainnya, Livermore adalah salah seorang trader yang sangat piawai mengelola emosional pada saat melakukan trading. Ia sanggup bersabar untuk waktu yang cukup lama sebelum mengambil kesempatan yang menguntungkan. Pada tahun 1920-an, Livermore menunjukkan kemampuan emosional langka untuk bertahan di transaksi yang sedang menguntungkan. Ia membiarkan open position terus terbuka, sehingga memungkinkan banyak keuntungan yang dapat diraih ketika trend terus berlanjut. Trader yang cerdas tahu bahwa ukuran trading adalah kunci. Setelah ukuran trading telah diatur dengan tepat, seorang trader yang sukses paham bahwa ia harus mengontrol ketamakan dan ketakutannya. Ukuran trading diatur sesuai dengan ekuitas akunnya, sehingga memungkinkan ia untuk mencapai hasil yang dikejar. Semakin besar modalnya, semakin besar pula transaksinya. Dengan mengetahui ukuran trading yang tepat untuk sistem mereka, para trader cerdas ini akan sanggup fokus pada jumlah yang tepat untuk pergerakan market pada saat itu. Trader yang sukses tahu serta takut atas kerugian untuk transaksi besar dalam satu open position. Ketika ukuran trading dipasang secara benar, akan lebih mudah untuk keluar dari transaksi jika suatu waktu pergerakan harga tidak menentu. Trader sukses adalah trader yang keserakahannya sudah direncanakan sebelumnya.

Kembali pada Livermore, cerita awalnya dimulai saat dia kabur dari rumah pada umur 14 tahun karena sang ayah bersikeras menyuruhnya menjadi petani. Jesse Livermore yang hanya lulusan bangku sekolah dasar akhirnya bekerja pada sebuah broker saham kecil di Boston, Amerika Serikat. Dari situlah dia belajar otodidak dan memulai karir tradingnya. Ia berhasil menjadi salah satu trader besar dan sangat kaya. Lalu bagaimana akhirnya? Imajinasinya membunuhnya.. Dia tidak mati sebagai orang miskin, tapi mati tanpa kebahagian. Pada akhirnya Livermore menyadari uang tidak bisa membeli kebahagian.

Apa yang ditinggalkan sang raja untuk para trader? Dalam melakukan trading, Livermore menerapkan beberapa aturan yang sampai saat ini pun masih di gunakan oleh trader dunia, antara lain:

Tidak masuk pasar ketika kondisi pasar sideways atau arah trend tidak jelas.
Menerapkan pivot point daily untuk mengetahui arah pergerakan harga.
Selalu menunggu konfirmasi baik dari segi teknikal maupun fundamental sebelum benar-benar melakukan order buy atau sell.
Selalu menggunakan stop loss (menentukan resiko), dan exit hanya bila trend berbalik arah (reverse).
Jangan pernah melakukan teknik averaging down pada posisi yang sedang merugi (teknik averaging down adalah teknik open posisi dengan menggunakan lot 2 kali lipat dengan arah yang sama. contoh: trend naik kemudian melakukan buy 1 lot dan ternyata harga turun, lalu melakukan buy menggunakan 2 lot dan seterusnya.

Pendapat Livermore lainnya, ada 3 hal yang menyebabkan trader rugi, antara lain: Kurang matangnya pengetahuan trader mengenai instrument pasar. Aturan trading (metode dan strategi) yang tidak tegas. Pelanggaran terhadap aturan yang telah disepakati oleh trader itu sendiri.

“Sepanjang waktu, orang pada dasarnya bertindak dan bereaksi dengan cara yang sama di pasar sebagai akibat dari: keserakahan, ketakutan, kebodohan, dan harapan. Itulah mengapa formasi numerik dan pola market muncul secara konstan.”

“Permainan spekulasi adalah permainan yang paling menarik di dunia. Tapi anda harus tahu, itu bukanlah permainan untuk orang-orang yang bodoh, bermental malas, orang dengan keseimbangan emosional rendah, atau orang yang bermimpi untuk cepat kaya. Mereka yang saya sebutkan pada akhirnya akan mati miskin.”

Terlepas dari plus minusnya, begitulah Jesse Livermore, sang raja spekulan, datang dan pergi, melintasi dunia trading yang hiruk pikuk ini. (Figure)


Jesse Livermore - Great Bear of Wall Street
Sumber: dunia forex, wikipedia, redgo, wienjourney, belajar forex


About ""

GAYA HIDUP SEHAT - Jadikan kesehatan sebagai gaya hidup anda.

Posting Komentar

 
Copyright © 2013 Qoregraphic
Design by FBTemplates | BTT